
TL;DR
Accounting berfokus pada pencatatan dan pelaporan transaksi keuangan yang sudah terjadi, sementara finance bertugas mengelola, merencanakan, dan mengarahkan keuangan perusahaan ke depan. Keduanya butuh pemahaman angka, tapi cara kerjanya berbeda: accounting berorientasi pada masa lalu, finance melihat masa depan. Lulusan akuntansi bisa masuk ke posisi finance, tapi tidak selalu sebaliknya.
Di lowongan kerja, dua posisi ini hampir selalu muncul berdampingan, bahkan tidak jarang disatukan dalam satu jabatan: Finance and Accounting Staff. Tapi begitu Anda benar-benar duduk di kursi kerja masing-masing, bedanya terasa jelas. Seorang staff accounting bisa menghabiskan harinya memeriksa entri jurnal dan menyusun laporan laba rugi. Staff finance di perusahaan yang sama mungkin sedang menghitung proyeksi arus kas untuk kuartal berikutnya atau mengevaluasi kelayakan investasi baru.
Keduanya sama-sama bekerja dengan angka keuangan. Itulah yang membuat banyak orang mengira pekerjaannya sama. Padahal perbedaan accounting dan finance cukup mendasar, baik dari sisi tugas harian, skill yang dibutuhkan, maupun jalur karier yang bisa ditempuh.
Beda Mendasar: Masa Lalu vs. Masa Depan
Cara paling mudah membedakan keduanya adalah melihat ke mana masing-masing menghadap secara waktu. Accounting (akuntansi) berurusan dengan apa yang sudah terjadi: transaksi yang sudah dicatat, uang yang sudah masuk atau keluar, laporan keuangan yang merangkum kondisi perusahaan pada periode tertentu. Finance (keuangan) berurusan dengan apa yang akan datang: berapa dana yang dibutuhkan enam bulan ke depan, investasi mana yang layak diambil, risiko apa yang perlu diantisipasi.
Dalam bahasa yang lebih teknis, accounting menghasilkan informasi, sedangkan finance menggunakan informasi itu untuk mengambil keputusan. Laporan keuangan yang disusun tim accounting menjadi bahan baku bagi tim finance untuk membuat proyeksi, merencanakan anggaran, atau memutuskan apakah perusahaan perlu mencari pendanaan eksternal.
Di Indonesia, pekerjaan accounting diatur oleh standar yang cukup ketat. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menerbitkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) sebagai pedoman penyusunan laporan keuangan yang wajib diikuti oleh entitas dengan akuntabilitas publik. Artinya, seorang akuntan tidak bisa bekerja sesuka hati; ada aturan baku yang menentukan bagaimana setiap angka dicatat dan disajikan. Finance tidak terikat standar teknis yang sekaku itu, tapi tetap membutuhkan pemahaman mendalam tentang laporan keuangan yang dihasilkan accounting.
Tugas Sehari-hari yang Berbeda
Perbedaan orientasi waktu tadi langsung terasa dalam pekerjaan nyata di lapangan. Berikut gambaran tugas yang biasa dijalankan masing-masing posisi.
Staff accounting umumnya mengerjakan:
- Mencatat setiap transaksi keuangan harian ke dalam sistem pembukuan
- Melakukan rekonsiliasi bank dan memastikan saldo sesuai
- Menyusun laporan keuangan: neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas
- Menghitung dan melaporkan kewajiban pajak
- Memastikan semua tagihan dan kewajiban operasional terbayar tepat waktu
Staff finance umumnya mengerjakan:
- Menyusun anggaran dan proyeksi keuangan perusahaan
- Mengelola arus kas agar operasional tetap berjalan lancar
- Mengevaluasi investasi dan menghitung kelayakannya (NPV, IRR)
- Mengelola risiko keuangan dan mencari sumber pendanaan
- Berkoordinasi dengan manajemen untuk mendukung keputusan strategis
Ada satu hal yang kerap membingungkan: di perusahaan kecil atau menengah, dua peran ini sering digabung dalam satu orang. Seseorang dengan jabatan Finance and Accounting Officer bisa mengerjakan keduanya sekaligus. Di perusahaan besar, keduanya dipisah dengan jelas dan punya departemen tersendiri. Jadi wajar kalau lowongan kerjanya pun sering muncul bersamaan.
Baca juga: HRGA Adalah: Pengertian, Tugas, Gaji, dan Bedanya dengan HRD
Skill yang Dibutuhkan Masing-Masing
Keduanya butuh ketelitian dan kemampuan analisis angka. Tapi penekanannya berbeda. Accounting menuntut ketelitian yang sangat tinggi karena satu kesalahan entri bisa berdampak pada seluruh laporan keuangan. Pemahaman tentang PSAK, perpajakan, dan penggunaan software akuntansi seperti SAP, Oracle, atau aplikasi lokal seperti Accurate menjadi modal utama.
Finance lebih menekankan kemampuan berpikir analitis dan strategis. Seseorang di posisi ini perlu memahami konsep seperti manajemen risiko, valuasi, dan struktur modal. Kemampuan komunikasi juga penting karena hasil analisis finance sering harus dipresentasikan kepada manajemen atau investor. Selain itu, pemahaman tentang cara kerja pasar modal, perbankan, dan instrumen investasi menjadi nilai tambah yang besar.
Dalam konteks sistem manajemen perusahaan yang baik, accounting dan finance saling melengkapi: data yang dihasilkan accounting menjadi fondasi bagi pengambilan keputusan keuangan oleh tim finance. Kalau salah satu lemah, seluruh sistem informasi keuangan perusahaan ikut terganggu.
Prospek Karier dan Gaji
Keduanya punya jalur karier yang jelas dan prospek yang baik. Yang berbeda adalah ke mana jalur itu mengarah.
Dari sisi accounting, jalur yang umum ditempuh adalah: staff accounting → senior accountant → internal audit → finance manager → controller. Accounting dinilai lebih stabil karena hampir semua jenis perusahaan, mulai dari startup kecil hingga BUMN, membutuhkan akuntan. Sertifikasi seperti CA (Chartered Accountant) dari IAI atau CPA (Certified Public Accountant) bisa mendorong kenaikan gaji.
Dari sisi finance, jalur karier bisa mengarah ke posisi seperti financial analyst, treasury, investment analyst, hingga finance director. Potensi penghasilan di finance, khususnya di sektor perbankan investasi dan pasar modal, cenderung lebih tinggi. Menurut laporan Page Insights Salary Guide 2024, rata-rata gaji kotor akuntan mencapai sekitar Rp18 juta per bulan, sementara posisi finance director bisa menyentuh Rp150 juta per bulan.
Untuk fresh graduate, gaji entry level di kedua bidang ini di kota besar umumnya berada di kisaran Rp4–7 juta per bulan, dengan angka yang bisa lebih tinggi di perusahaan multinasional atau Big 4 (Deloitte, PwC, EY, KPMG).
Mana yang Lebih Cocok untuk Anda?
Ada satu pola yang menarik di dunia kerja Indonesia: lulusan akuntansi cukup sering berhasil pindah ke posisi finance, tapi perpindahan sebaliknya jarang terjadi. Alasannya logis: akuntan sudah terbiasa membaca dan menyusun laporan keuangan, yang merupakan bekal utama untuk bekerja di finance. Lulusan finance yang tidak punya latar belakang akuntansi biasanya perlu belajar lebih keras ketika diminta mengerjakan tugas-tugas teknis akuntansi.
Jadi jika Anda sedang mempertimbangkan jalur mana yang ingin ditempuh, berikut panduan singkatnya:
- Pilih accounting jika Anda menyukai hal-hal yang terstruktur, detail, dan bekerja dalam kerangka aturan yang jelas. Cocok untuk Anda yang ingin jenjang karier yang stabil dan fleksibel di berbagai industri.
- Pilih finance jika Anda lebih tertarik pada strategi, analisis besar, dan pengambilan keputusan investasi. Cocok untuk Anda yang ingin bermain di sektor perbankan, pasar modal, atau posisi strategis di perusahaan besar.
Tapi perlu dicatat: di pasar kerja Indonesia, kemampuan menguasai keduanya justru jadi nilai jual tersendiri. Banyak perusahaan, terutama yang skalanya belum besar, lebih memilih kandidat yang bisa mengerjakan tugas accounting dan finance sekaligus. Memahami keduanya bukan berarti harus ahli di keduanya, tapi setidaknya tahu cara membaca dan menghubungkan informasi dari masing-masing sisi.
Baca juga: Contoh Ide Usaha Modal Kecil: Dari Kuliner, Pertanian, hingga Digital
Pada akhirnya, accounting dan finance bukan dua hal yang saling bersaing. Keduanya adalah bagian dari ekosistem keuangan yang sama. Accounting menjaga agar data keuangan perusahaan akurat dan dapat dipercaya; finance memastikan data itu digunakan untuk keputusan yang tepat. Tanpa salah satu, perusahaan akan berjalan buta.

