
Kalau ada satu kabupaten di Sumatera Selatan yang identitasnya melekat erat pada hamparan sawah dan irigasi yang mengalir hingga lintas provinsi, itu adalah Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur. Daerah yang akrab disebut OKU Timur ini bukan sekadar nama administratif — ia adalah cerita panjang tentang transmigrasi, ketahanan pangan, dan perpaduan budaya yang berlangsung selama berabad-abad.
Geografi dan Gambaran Umum
OKU Timur berada di Provinsi Sumatera Selatan, dengan ibu kota di Kecamatan Martapura. Kabupaten ini memiliki luas wilayah sekitar 3.370 km² dan pada pertengahan 2024 dihuni oleh lebih dari 690.000 jiwa. Saat ini terdiri dari 20 kecamatan, 305 desa, dan 7 kelurahan — angka yang jauh bertumbuh dari hanya 10 kecamatan saat pertama kali terbentuk.
Sebagian besar wilayah OKU Timur berupa dataran rendah yang dilalui dua sungai besar: Sungai Ogan dan Sungai Komering. Topografi ini bukan sekadar keistimewaan geografis, melainkan fondasi dari seluruh sistem pertanian yang menjadi tulang punggung perekonomian daerah.
Sejarah Terbentuknya OKU Timur
Nama “Komering” sendiri menyimpan jejak sejarah yang jauh lebih tua. Menurut catatan sejarah lokal, kata ini berasal dari bahasa India yang berarti “pinang” — merujuk pada perdagangan buah pinang yang ramai berlangsung di kawasan ini sebelum abad ke-9, ketika pedagang dari India berdatangan melalui jalur sungai.
Kabupaten OKU Timur resmi berdiri pada 17 Januari 2004, hasil pemekaran dari Kabupaten Ogan Komering Ulu berdasarkan Undang-undang Nomor 37 Tahun 2003. Pemekaran ini bukan proses instan. Tuntutannya sudah bergulir sejak pasca-pemilihan Bupati OKU tahun 2000, ketika masyarakat dari wilayah timur dan selatan merasa rentang kendali pemerintahan terlalu jauh dari kebutuhan nyata di lapangan. Setelah perjuangan panjang melalui Panitia Persiapan Pembentukan Kabupaten OKU Timur (PPP-KOT), aspirasi itu akhirnya dikukuhkan secara hukum — dan Martapura ditetapkan sebagai ibu kota yang baru.
OKU Timur sebagai Lumbung Beras Nasional
Tidak berlebihan menyebut OKU Timur sebagai salah satu penyangga ketahanan pangan Indonesia. Sekitar 65 persen lahan di kabupaten ini digunakan sebagai lahan pertanian dan perkebunan. Dari catatan produksi padi tahun 2023, OKU Timur menghasilkan lebih dari 716.000 ton gabah — angka yang menempatkannya sebagai salah satu produsen padi terbesar di Sumsel dan masuk dalam 15 besar nasional.
Sektor pertanian di OKU Timur tidak hanya bertumpu pada padi. Jagung, kacang tanah, ubi kayu, salak, duku, dan durian juga tumbuh di sini — menjadikan kabupaten ini lebih dari sekadar sawah monokultur.
Bendungan Perjaya: Infrastruktur yang Mengubah Sejarah
Di balik produktivitas pertanian OKU Timur ada satu infrastruktur yang perannya sulit dilebih-lebihkan: Bendungan Perjaya. Terletak di Desa Perjaya, Kecamatan Martapura, sekitar 7 kilometer dari pusat kota, bendungan ini mulai dirancang sejak era kolonial Belanda pada 1941, lalu dibangun dan diresmikan pada masa Orde Baru antara tahun 1991 hingga 1995.
Bendungan ini membendung Sungai Komering dan mengairi jaringan irigasi seluas 120.000 hektare — mencakup tidak hanya wilayah OKU Timur, tetapi juga sebagian daerah di Provinsi Lampung seperti Bahuga dan Tulang Bawang. Jangkauannya yang lintas provinsi menunjukkan betapa strategisnya infrastruktur ini bagi kawasan Sumatra bagian selatan secara keseluruhan.
Selain fungsi irigasinya, Bendungan Perjaya kini menjadi destinasi wisata yang digemari warga setempat. Panorama hamparan sawah di sekitar pintu air dan suara gemuruh aliran sungai menciptakan suasana yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.
Peran KUD dalam Ekosistem Pertanian
Keberhasilan pertanian OKU Timur tidak lepas dari dukungan kelembagaan yang bekerja langsung di tingkat petani. KUD Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur menjadi salah satu penggerak distribusi sarana produksi, penyerapan hasil panen, dan akses pembiayaan bagi petani lokal — menjadi mata rantai yang menghubungkan sawah dengan pasar.
Keberagaman Budaya yang Tumbuh dari Transmigrasi
Suku Komering adalah kelompok etnis asli yang paling lama mendiami wilayah ini. Namun OKU Timur hari ini adalah daerah yang jauh lebih beragam. Program transmigrasi yang berlangsung sejak zaman kolonial Belanda dan dilanjutkan intensif pada era Orde Baru membawa gelombang pendatang dari Jawa, Bali, Sunda, dan Minangkabau — terutama ke wilayah Kecamatan Belitang dan sekitarnya.
Hasilnya adalah perpaduan budaya yang unik. Di Desa Darma Buana, misalnya, setiap tahun digelar Festival Ogoh-Ogoh dan setiap lima tahun ada upacara Ngaben Massal — tradisi Bali yang tetap hidup ratusan kilometer dari pulau asalnya. Di desa lain, perempuan pengrajin Songket dari Desa Gunung Batu, Kecamatan Cempaka, masih menurunkan keahlian menenun dari generasi ke generasi, menghasilkan kain songket yang dipasarkan hingga ke Palembang dengan harga Rp 2 juta hingga Rp 5 juta per lembar.
Keberagaman ini bukan tanpa tantangan — tapi yang lebih menonjol adalah bagaimana komunitas dari latar belakang berbeda berhasil membangun kehidupan bersama di atas lahan yang sama.
Potensi Wisata yang Belum Sepenuhnya Tergali
Di luar pertanian, OKU Timur menyimpan sejumlah destinasi wisata yang masih relatif sepi di radar nasional. Selain Bendungan Perjaya, ada agrowisata persawahan Belitang — pengalaman langsung menyusuri hamparan sawah yang cocok bagi wisatawan yang ingin keluar sejenak dari kehidupan kota. Ada juga Danau Datuk di Kecamatan Buay Madang, Pemandian Bukit Mencar Jaya di Jayapura dengan air alami yang tidak pernah kering bahkan di musim kemarau, serta agrowisata perkebunan salak di Belitang dan duku-durian di Cempaka.
Desa Betung di Kecamatan Semendawai Barat tercatat sebagai salah satu desa tertua di pesisir Komering, sudah ada sejak 1520 — bagi yang tertarik pada wisata sejarah dan budaya Komering, desa ini menawarkan lapisan narasi yang jarang dijamah.
OKU Timur Hari Ini
Dua dekade berdiri sebagai kabupaten mandiri, OKU Timur telah membangun fondasi yang cukup kuat — khususnya di sektor pertanian. Produktivitas padi yang mencapai 6,36 ton per hektare menempatkannya sebagai salah satu kabupaten dengan peningkatan produksi tertinggi secara nasional, bahkan pernah meraih penghargaan dari Kementerian Pertanian pada 2021.
Tantangan ke depannya nyata: pemerataan pembangunan di kecamatan-kecamatan yang jauh dari ibu kota, diversifikasi ekonomi di luar pertanian, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Tapi bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana sebuah daerah membangun identitasnya dari nol — dari pemekaran administratif, transmigrasi, hingga lahan sawah yang menghasilkan ratusan ribu ton padi per tahun — OKU Timur adalah tempat yang tepat untuk memulai.
