
TLDR
Ramadan 1447 H sudah berjalan sejak 18 Februari 2026 versi Muhammadiyah dan 19 Februari 2026 versi pemerintah. Per 6 Maret 2026, ini adalah hari ke-17 Ramadan (Muhammadiyah) atau hari ke-16 (pemerintah/NU). Idul Fitri diperkirakan jatuh pada 20 Maret 2026 (Muhammadiyah) atau 21 Maret 2026 (pemerintah), artinya Lebaran tinggal 14 hingga 15 hari lagi.
Ramadan 1447 H sudah memasuki separuh perjalanan. Bagi yang baru bertanya “puasa 2026 berapa hari lagi”, jawabannya bergantung pada versi yang Anda ikuti: tersisa sekitar 13 hingga 14 hari puasa sebelum tiba 1 Syawal. Idul Fitri sudah ada di depan mata, tapi ada beberapa detail tanggal yang penting untuk Anda ketahui, terutama soal perbedaan penetapan dan jadwal libur panjangnya.
Kapan Puasa Ramadan 2026 Dimulai dan Berakhir?
Tahun ini awal Ramadan berbeda satu hari antara Muhammadiyah dengan pemerintah dan NU. Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal dan penerapan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Sementara itu, Kementerian Agama RI melalui Sidang Isbat yang digelar pada 17 Februari 2026 menetapkan bahwa 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan ini diambil karena posisi hilal saat pengamatan belum memenuhi kriteria MABIMS, sehingga bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari.
Kedua versi menyepakati bahwa Ramadan 1447 H berlangsung genap 30 hari. Artinya:
- Versi Muhammadiyah: Ramadan berakhir 19 Maret 2026
- Versi Pemerintah/NU: Ramadan berakhir 20 Maret 2026
Baca juga: Pertanian Indonesia: Tantangan Besar dan Peluang yang Tersisa
Hari Ini Puasa Ke Berapa? (6 Maret 2026)
Per hari ini, 6 Maret 2026, posisinya adalah:
| Versi | Hari Ke- | Sisa Hari Puasa |
|---|---|---|
| Muhammadiyah | 17 | 13 hari |
| Pemerintah / NU | 16 | 14 hari |
Artinya, kita sudah melewati separuh Ramadan dan memasuki fase yang secara tradisional disebut maghfirah atau fase ampunan, yakni 10 hari kedua bulan puasa.
Berapa Hari Lagi Idul Fitri 2026?
Dihitung dari 6 Maret 2026, Lebaran tinggal:
- 14 hari lagi jika mengikuti Muhammadiyah (Idul Fitri 20 Maret 2026)
- 15 hari lagi jika mengikuti Pemerintah/NU (Idul Fitri 21 Maret 2026, menunggu sidang isbat)
Muhammadiyah sudah secara resmi menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Jumat, 20 Maret 2026. Keputusan ini tercantum dalam Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadhan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.
Untuk pemerintah, kepastian tanggal Idul Fitri baru akan ditetapkan melalui Sidang Isbat pada Kamis, 19 Maret 2026. Sidang tersebut digelar di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kemenag Jakarta, mulai pukul 16.00 WIB. Berdasarkan kalender Hijriah Indonesia dan prediksi pemerintah, 1 Syawal 1447 H kemungkinan besar jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Jadwal Libur Lebaran 2026: Ada “Jembatan Emas” Nyepi
Kabar menarik untuk tahun ini: Lebaran 2026 berdekatan dengan Hari Suci Nyepi yang jatuh pada Rabu, 18 Maret 2026. Perpaduan dua hari libur keagamaan ini menciptakan libur panjang yang sudah ditetapkan dalam SKB 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026:
- Rabu, 18 Maret: Hari Suci Nyepi (libur nasional)
- Kamis–Jumat, 19–20 Maret: Cuti bersama Idul Fitri
- Sabtu, 21 Maret: Idul Fitri hari pertama (libur nasional, prediksi pemerintah)
- Minggu, 22 Maret: Idul Fitri hari kedua (libur nasional)
- Senin–Selasa, 23–24 Maret: Cuti bersama Idul Fitri
Total potensi libur beruntun mencapai 7 hari (18–24 Maret 2026). Bagi yang berencana mudik, memanfaatkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) pemerintah pada 16–17 Maret bisa membantu menghindari puncak kepadatan arus kendaraan.
Baca juga: Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur: Lumbung Beras dan Mozaik Budaya di Jantung Sumatera Selatan
Hisab vs Rukyat: Mengapa Tanggalnya Bisa Berbeda?
Perbedaan penetapan awal Ramadan dan Idul Fitri antara Muhammadiyah dengan pemerintah dan NU bukan hal baru, dan bukan soal mana yang benar. Keduanya memiliki landasan ilmu falak yang sah, hanya metodenya berbeda.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab (hisab hakiki wujudul hilal) yang berbasis perhitungan astronomi. Jika posisi bulan secara matematis sudah berada di atas ufuk pada saat matahari terbenam, maka bulan baru dinyatakan masuk. Metode ini memungkinkan penentuan tanggal jauh-jauh hari sebelumnya.
Pemerintah dan NU menggunakan pendekatan rukyatul hilal, yaitu pengamatan hilal secara langsung di lapangan, dikombinasikan dengan data astronomi. Jika hilal belum terlihat atau belum memenuhi kriteria visibilitas minimum yang ditetapkan MABIMS (tinggi minimal 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat), maka bulan lama digenapkan dulu sebelum bulan baru dinyatakan mulai.
Perbedaan ini hampir selalu menghasilkan selisih satu hari. Tidak perlu diperdebatkan karena keduanya diakui secara resmi, dan yang paling penting adalah mengikuti salah satu secara konsisten.
Sisa Ramadan: Manfaatkan 10 Hari Terakhir
Setelah fase maghfirah di 10 hari kedua, Ramadan akan memasuki fase yang paling ditunggu: 10 hari terakhir atau fase itqun minan nar (pembebasan dari api neraka). Di fase inilah Lailatul Qadar diyakini berada, yakni malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Dengan sisa puasa yang tinggal belasan hari, inilah waktu untuk memaksimalkan ibadah sebelum Ramadan 1447 H benar-benar berakhir. Banyak hal yang bisa dilakukan: memperbanyak tilawah, memperbanyak sedekah, atau merencanakan i’tikaf di 10 malam terakhir.
Ramadan 2026 sudah memasuki paruh kedua dan Lebaran sudah sangat dekat. Per 6 Maret, tinggal 13–14 hari puasa tersisa, dengan Idul Fitri jatuh pada 20 atau 21 Maret 2026 tergantung versi yang diikuti. Manfaatkan sisa waktu ini sebaik mungkin, dan pantau pengumuman resmi Sidang Isbat Kemenag pada 19 Maret 2026 untuk kepastian tanggal Idul Fitri versi pemerintah.